
MENJADI GURU PEMBELAJAR
Oleh: Adang Nurdin M.S., M.Pd
Direktur SDMU Idrisiyyah Foundation dan Pendidik di Lembaga Pendidikan Idrisiyyah
Kita mungkin pernah mendengar atau membaca sebuah ungkapan yang sangat luar biasa. Ungkapan itu adalah, “Guru memang bukan orang hebat, tapi semua orang hebat berkat jasa seorang guru”. Ungkapan ini menyadarkan kita bahwa guru memiliki peranan besar terhadap keberhasilan orang-orang yang sukses. Tugas guru bukan hanya sebatas mengajar di dalam kelas, tapi guru adalah pendidik yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya. Baik perkembangan intelektualnya, perkembangan fisiknya dan juga perkembangan akhlaknya. Selain itu juga sebagai motivator, guru harus mampu memberikan motivasi kepada para peserta didiknya, sehingga peserta didik bukan hanya menjadi pribadi yang siap diajari. Namun lebih dari itu mereka menjadi pribadi yang siap belajar dan siap berubah untuk lebih baik.
Perkembangan dan kemajuan zaman memberikan banyak kemudahan untuk para peserta didik bisa belajar. Akses internet yang mudah sesungguhnya mempermudah belajar, sehingga seakan-akan guru tidak dibutuhkan lagi keberadaannya, karena merasa bisa belajar dari sumber-sumber yang ada. Padahal pemahaman seperti ini adalah hal yang salah, karena mungkin para peserta didik bisa belajar di mana saja melalui internet. Akan tetapi ada hal yang tidak bisa didapatkan dari pembelajaran lewat internet yaitu contoh hidup atau uswah seorang guru yang hadir di tengah-tengah para peserta didik yang mampu mentransfer nilai-nilai kehidupan dari perilaku kesehariannya yang langsung dilihat peserta didik motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan ruh perjuangannya.
Keberadaan guru di tengah-tengah peserta didik harus menjadi contoh atau uswah yang baik bagi para peserta didik, dan ini menjadi tugas bagi guru, karena peserta didik adalah peniru yang baik. Maka kewajiban seorang guru untuk terus meningkatkan kompetensi dirinya adalah dengan terus belajar, karena ketika seorang guru berhenti belajar, maka berhentilah karir seorang guru untuk menjadi contoh atau uswah yang baik bagi peserta didiknya.
Sebagai seorang Guru dan Pendidik yang dapat dijadikan teladan bagi peserta didik, reading habit guru harus selalu meningkat sebagai sarana penambahan wawasan. Jangan sampai anak didik selangkah lebih maju daripada gurunya dari aspek pengetahuan sebagai dampak derasnya informasi melalui media sosial yang diterima oleh anak-anak. Dalam persfketif Islam Allah SWT memberikan modal yang luar biasa kepada setiap manusia untuk terus belajar dan mengambil pelajaran, seperti informasi yang datang melalui penglihatan, pendengaran akan turun ke hati, hati yang merasa dan tersambung kepada Allah SWT. Sehingga mampu mengolah informasi menjadi sebuah pembelajaran.
Apa yang dilihat dan didengar bukan hanya berlalu begitu saja. Namun ada proses olah rasa dan olah hati yang menjadikan pribadi guru yang pandai merasa, bukan merasa pandai. Dari sana akan tumbuh kenginan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi diri. Al-Qur’an menyebutkan “Dan Allah SWT mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur” (QS.An-Nahl:78).
Tiga modal yang Allah SWT berikan kepada setiap manusia adalah sama, yakni berupa potensi pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Modal yang sama teresebut akan menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan apabila modal itu dikelola dengan sikap syukur. Bentuk dari mengelola modal dan karunia besar dari Allah SWT ialah dengan bersyukur. Pendengarannya digunakan untuk mendengarkan berbagai hal yang bermanfaat dan menambah wawasan, kajian, pembinaan, seminar. Bahkan lebih dari itu Guru dan Pendidik bisa belajar dengan mau mendengarkan peserta didik, mendengarkan rekan sepforesi, orangtua dengan berbagai problematika di dalamnya sebagai sebuah pembelajaran untuk meningkatkan kualitas diri.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1), ada 4 kompetensi yang wajib dimiliki seorang guru, yaitu kompetensi pedagodik, kepribadian, sosial dan profesional. Kompetensi pedagogik guru adalah kemampuan atau keterampilan guru yang bisa mengelola suatu proses pembelajaran atau interaksi belajar dan mengajar dengan peserta didik. Kompetensi pedagogik lahir dari kompetensi pribadi seorang guru yang mampu mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap kendala yang dihadapi. Ketika proses belajar mengajar, menghadapi permasalahan anak-anak yang sulit belajar, malas, hiperaktif, maka dapat membuat problem diolah menjadi sebuah solusi. Itulah buah dari mendayagunakan modal yang Allah SWT berikan berupa pendengaran, penglihatan dan hati nurani lahir sebuah kreativitas guru dalam mendidik dan selalu menemukan solusi dari setiap permasalahan pembelajaran di kelas.
Menjadi guru yang memiliki ‘Sense of Care and Sense of Belonging’ adalah wujud dari kompetensi sosial. Peduli terhadap perkembangan siswa, peduli terhadap perkembangan lembaga, sekolah bukan dijadikan semata-mata tempat bekerja saja. Lebih dari itu sekolah dijadikan sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT dalam rangka memperoleh tiket anugrah Allah SWT sebagai orang yang berilmu dan bermanfaat ilmunya. Dengan mendayagunakan modal yang Allah SWT berikan dengan baik dan maksimal, maka akan lahir guru profesional yang memiliki jiwa pembelajar dan jiwa pengabdi. Sebagaimana dokter bertugas mengobati penyakit pasien, guru bertugas mengatasi berbagai keluhan belajar yang dihadapi siswa. Keduanya dituntut bersikap profesional dalam melaksanakan tugas. Guru yang dekat dengan siswa dan berpengalaman mengajar bertahun-tahun akan mengetahui berbagai ‘penyakit’ yang biasa diderita siswa. Dengan demikian, guru tersebut tak akan kesulitan menemukan solusi yang tepat. Sehingga sangat tidak wajar jika guru yang sudah mengajar bertahun-tahun kemudian menemukan permasalahan belajar yang sama tapi tidak memiliki ‘obat’ dengan resep yang pas sebagai solusinya. Seharusnya pengalaman guru mampu dijadikan berbagai formulasi resep untuk setiap penyakit belajar siswa.
Salah satu ‘penyakit’ yang biasa dihadapi siswa adalah rendahnya motivasi. Itu terlihat dari aktivitas siswa dalam KBM dan saat mengerjakan tugas yang diberikan guru. Padahal, motivasi merupakan pilar keberhasilan dalam belajar. Tanpa motivasi yang kuat, KBM tak akan berhasil. Ketika guru melihat siswa kehilangan motivasi belajar, perlu ditelusuri penyebabnya, lalu dicarikan solusi. Guru jangan menunggu siswa datang untuk sharing. Guru harus peka terhadap kondisi siswanya. Tak jarang pula, minat baca siswa rendah. Siswa lebih betah berjam-jam di depan televisi daripada membaca. Untuk membangkitkan minat baca siswa, guru bisa menunjukkan betapa banyak manfaat membaca. Misalnya, membangkitkan kreativitas, memberikan hiburan yang sehat, bahkan (bagi seorang muslim) perintah agama. Selain itu hal ini juga disebabkan oleh rendahnya minat baca guru-guru di sekolah yang tidak menjadi uswah bagi budaya literasi sekolah.
